Kemarin pemilihan bupati. Alhamdulillaah kelihatannya lancar. Tidak seperti pemilihan gubernur beberapa waktu sebelumnya, agak ricuh, karena banyak warga yang tidak mendapat kartu pemilih, kali ini adem ayem. Setelah ada perbaikan data, sepertinya sudah banyak data warga yang ter-cover, meskipun masih ada kurang di sana-sini, yah jamaklah, wong datanya banyak kayak gitu. Cuma yang mengherankan, setelah diperbaiki datanya dan dapat kartu pemilih pula, tapi kok ya banyak juga warga yang malah tidak ikut mencoblos. Ada yang pergi dan ada yang memang di rumah saja (golput nih?). Lucunya dari yang pergi itu ada yang (niatnya) tanya padaku “Bu, TPS-nya tutup jam berapa?”, padahal dia ada di tengah kota dan terjebak kemacetan. Kalau ya niat nyoblos, ngapain juga pergi jauh? Ck..ck..ck… (berdecak karena merasa aneh).
Berbagi
Posted in Ada-ada aja | 1 Comment »
Kenapa ya, kalau minum susu, terutama pagi-pagi, perutku suka mulas. (sudah rapi-rapi mau berangkat kantor, malah kepingin ke belakang lagi….)
Berbagi
Posted in Uncategorized | No Comments »
Kenapa ya pagi ini waktu kami pamit pergi ke kantor, Ade cuek aja. Biasanya kan suka meraung-raung? Terutama kalau ditinggal ayahnya. Apa dia sudah bisa memaklumi kepergian kami?
Berbagi
Posted in Anak-anak, Keluargaku | 2 Comments »
Kenapa ya si Ade lebih bisa bilang “Ayah…” dibanding “Ibu…”. Padahal kami di rumah juga sudah melatihnya berkali-kali. Sudah paling bagus kalau aku nyanyi “Satu-satu aku sayang I….” terus dia lanjutkan “du….” (bukan bu). Apa karena Ade merasa lebih dekat dengan Ayahnya? Atau karena mengucapkan “Ayah…” yang hanya 1 jenis vokal itu jauh lebih mudah dibanding “Ibu…” yang mengandung 2 vokal ? Kalau aku pulang kantor, begitu sampai rumah dan mengucapkan salam, dia hanya memandangku sebentar padahal aku yang berada lebih dekat dengan pintu, terus dia celingukan mencari sosok ayahnya (baik kalau aku pulang bareng suamiku maupun tidak). Ade…Ade… Padahal kan Ibu kangen Ade juga.
Berbagi
Posted in Anak-anak, Keluargaku | No Comments »
Mau 17 Agustusan, tapi di tempatku belum tampak keramaian lomba. Mungkin besok kali ya? Cuman kenapa ya, dibanding aku kecil dulu, lomba-lomba baik untuk anak-anak maupun dewasanya saat ini seperti kurang greget ya? Padahal dulu rasanya tujuhbelasan seperti suatu hal yang ditunggu-tunggu. Sudah dibayang-bayang, aku mau ikut lomba ini-itu. Usai upacara disekolah, langsung rasanya ingin cepat sampai rumah. Orangtuaku dulu (sebelum rumah yang sekarang) tinggal di gang kecil di Bandung. Tapi justru di tempat seperti ini, lomba dan perayaan 17-an rasanya marak sekali. Mulai dari lombanya, bazar makanannya, sampai panggung pertunjukannya, yang diisi berbagai sumbangan atraksi baik dari anak-anak maupun ibu-ibu.Kebanyakan anak-anak menyuguhi atraksi tarian, remajanya vocal group, dan ibu-ibunya menyanyikan lagu dengan menggunakan berbagai macam pakaian daerah. Bapak-bapaknya biasanya lebih banyak di perlombaan olah raganya, seperti badminton (karena kami hanya memiliki lapangan kecil, yaitu badminton, yang juga jadi lapangan segala acara, termasuk untuk mendirikan panggung). Belum lagi kalau lomba antar RW, seperti kasti (kalau yang tidak tahu kasti, itu olah raga bola pukul menggunakan tongkat seperti softball) ibu-ibu… wah itu ramai sekali. Suporter berdatangan dari berbagai wilayah, di lapangan rumput tinggi (yang sekarang sudah jadi perumahan real estate) saling meberikan dukungan. Kalau ada yang bermain curang, kita menyoraki dan mengejek. Pokoknya ramai dan meriah sekali rasanya.
Continue Reading »
Berbagi
Posted in Uncategorized | 1 Comment »